Kamis, 30 Januari 2014

(Cerita Mini) Ritual

Crash...
Sekali lagi, ku goreskan pedang pada kulit porselen-nya. Ku ukir sayatan indah bersanding dengan sakit tak terbayang. Tak peduli onggokan ini Dewa sekalipun, ku kan tetap lakukan hal yang sama. Menginjak tangan remukkan tulang. Haus akan darah ciptakan siksa. Terakhir, ku tusukkan cenangkas dalam-dalam melalui ubun-ubunnya. Hingga teriakan dan permohonan tak lagi ku dengar. Bukan pembunuhan, ini tarian selamat datang.

*****

Ku langkahkan kaki menyusuri lorong-lorong hampa. Bersiap untuk menghadapnya, Malaikat penyelamatku. Ditemani sebatang parafin yang berpijar. Keremangan mulai berkumpul menghangatkanku. Mengusik kegelapan yang sudah menjadi bagian dari jiwaku. Yang terpenting, tak peduli seberapa dalam kini aku menyelam, ku putuskan hidup hanya untuknya. Mengabdi pada dunia kelam yang tak berujung.

Aku telah terjerat, pada mata merahnya yang dikata menakutkan. Aku terpukau, pada obsesinya akan pancaran kirana alkana padat yang anehnya tak pernah padam. Aku suka dengannya, dan segala keanehan di sekitarnya. Meski di sini terang tak akan mengalahkan gelap. Aku tetap ingin menjadi layaknya batangan pemercik itu baginya, sampai kapanpun.

Ku letakkan gundukan daging di bahuku ke hadapannya,
"Persembahanku untukmu, Tuan."

Seketika itu dengan jetikan jarinya, satu per satu penerangan yang ada dalam ruangan itu menyala. Berderet rapi merupa tengkorak dengan tawa nista

akan dimulai, ritual kematian.

(Sintya Chalifia Azizah)


0 komentar:

Poskan Komentar

Translate